Brief Membuat Website: Panduan Mudah Bagi Pemula (+ Template Gratis)

Desainer web profesional menerjemahkan idemu menjadi website. Mereka menjadi investasi fantastis bagi siapa saja yang serius membangun brandnya.

Namun, mendesain web tak semudah memesan makanan.

Kamu tak bisa meminta website dibuatkan dan berharap hasilnya seperti yang kamu bayangkan.

Layaknya proyek desain mana pun, kamu harus memulainya dengan brief kreatif terperinci. 

Ah, brief kreatif. Sel induk seluruh proyek desain. 

Mulai dari iklan cetak hingga proyek website – semua dimulai dan diakhiri dengan brief kreatif. 

Klien, seperti dirimu, menerima brief kreatif sebelum atau setelah konsultasi awal. 

Dokumen sederhana sepanjang 1-2 halaman ini menjabarkan spesifikasi proyekmu. Nantinya ini berguna sebagai panduan untuk desainer saat membuat websitemu.

Bayangkan brief kreatif ini sebagai cetak biru (blueprint) websitemu. Bila dilakukan dengan benar, ini menjamin hasilnya tepat dan rampung sesuai jadwal.

Tak ada satu pun brief kreatif yang sama, tetapi umumnya harus memiliki hal-hal berikut:

  • Gambaran jernih mengenai perusahaan, produk/layanan, dan audiens sasaranmu;
  • Tujuan dan metrik website;
  • Ruang lingkup yang terdefinisikan dengan baik;
  • Desain dan konten yang diinginkan.

Perkenalkan bisnismu

Bagaimana kamu merangkum keseluruhan bisnismu dalam lima kalimat atau kurang?

Susunlah dengan dasar-dasar ini:

  • Siapa dirimu? (Bahas nama dan industri bisnismu – misalnya retail, manufaktur, atau acara dan hiburan);
  • Siapa pelanggan yang kamu sasar?
  • Di mana lokasimu?
  • Siapa yang masuk tim manajemen inti?

Saat membahas bisnismu, cobalah tidak terfokus pada kamu ingin menjadi apa. Sebaliknya, pikirkan siapa dirimu sekarang.

Contoh di atas mencakup beberapa intinya – mulai dari sifat bisnisnya, layanan yang ditawarkan, dan audiens yang disasar. Ada juga kontak utamanya. Memaparkan tujuan akhir, tenggat, dan pertanyaan proyek apa pun jadi lebih mudah.

Tujuan/sasaran websitemu

Meluncurkan website tanpa tujuan jelas di kepala takkan berujung penjualan. Itu hanya akan menjadi beban, bukannya aset bisnismu

Kamu perlu tujuan lugas dulu untuk membangun audiens, barulah mendapat conversions.

Sebuah tujuan menjaga visimu tetap di jalurnya. Ini juga membantumu merencanakan dan mengumpulkan sumber daya yang kamu butuhkan untuk meraihnya.

Susun tujuan websitemu berdasarkan aturan S.M.A.R.T:

Audiens sasaran

Memasarkan kepada semua orang itu sama saja seperti tidak memasarkan kepada siapa pun.

Nah, tentukan audiens sasaranmu. Ini membantumu membuat pesan brand yang lebih baik. Dalam hal ini, membantumu membuat website yang memenuhi kebutuhan pengguna akhir.

Agar bisa membayangkan pelanggan idealmu dengan lebih baik, rincikan menjadi:

  • Demografis: Usia, jenis kelamin, pendapatan, keadaan keluarga, dll.;
  • Psikografis: Kepribadian, minat, tren website/desain yang menurut mereka paling menarik;
  • Kendala: kamu juga bisa menyarankan cara-cara menjawab kendala tersebut pada websitemu.

Ingatlah untuk tetap di industri atau niche-mu!

Bicaralah pada basis pelangganmu sekarang, kunjungi forum, atau lakukan survei agar mengenal audiens sasaranmu dengan lebih baik. Semakin banyak informasi yang kamu punya, websitemu semakin pas.

Langkah 2: Ruang Lingkup Proyek

Timeline Proyek

Tambahan ruang lingkup atau scope creep merupakan penghalang umum dalam manajemen proyek. Ini terjadi bila kebutuhan tak dijabarkan dengan baik.

Bila kamu tak berhati-hati, ini bisa menyabotase seluruh websitemu.

Hindari ini dengan membuat garis waktu proyek. Ini mungkin takkan mencegah perubahan di detik-detik terakhir, tetapi membantumu dan desainermu menjaga proyek ini pada jalurnya.

Kamu akan lihat sebagian besar desainer menggunakan bagan Gantt untuk memantau pengembangan terakhir dan garis waktunya. Ini juga cara yang menakjubkan untuk memverifikasi kebutuhan yang diperlukan kedua belah pihak.

Arsitektur Websitemu

Seiring lebih mudahnya mengakses informasi, rentang perhatian orang semakin pendek.

Website yang berantakan adalah alasan lainnya kenapa para pengunjung tak mau berlama-lama di websitemu.

Untuk itulah ada laman web.

Web desainer yang bagus tahu bagaimana menyusun websitemu untuk para pengguna.

Di sisimu, ini semata tentang jumlah laman yang dibutuhkan websitemu.

Ini meliputi – tidak terbatas – pada:

  • Beranda
  • Laman Produk/Layanan
  • Tentang Kami
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Privasi
  • Formulir Kontak
  • Blog (tambahan)
  • Landing page yang disesuaikan (untuk promo spesial, konten yang mengundang calon pelanggan, dll)

Langkah 3: Desain Visual dan Konten

Konten

Setelah kamu tahu persisnya jumlah laman websitemu, ini waktunya memikirkan kontennya.

Putuskan konten apa yang dibutuhkan websitemu – dan apakah kamu menulisnya sendiri. Pikirkan headline, laman “Tentang Kami”, proses bisnis, listing produk, dll.

Kalau konten akhirnya belum siap, triknya dengan teks pengganti. Ini akan memberi desainer konten awal untuk pengerjaan.

Desain Visual

Sudah menyiapkan panduan desain atau gaya? Ini waktu yang tepat untuk memamerkannya.

Desainer membutuhkan referensi apa pun agar mereka tetap selaras dengan brandmu. Ini membantu menjabarkan inspirasi desain yang kamu temukan secara online.

Juga pastikan bertanya apakan paket desain webmu juga termasuk logo dan grafis (foto stock, video, dll.). Bila tidak, bersiaplah menyiapkan apa pun yang belum ada.

Ini semua berawal dari brief kreatif yang hebat

Brief kreatif yang dipikirkan dengan baik akan berujung pada proses desain yang lancar. Dan tentu saja, website yang paling pas untuk bisnismu.

Bagi desainer, ini permata yang ditambahkan ke portofolio mereka. Bagimu, ini platform berkualitas yang dengan bangga kamu sematkan pada brandmu.

Ingat: Luangkan waktu saat mengisi brief kreatif. Berikan desainermu sumber daya yang mereka butuhkan untuk menerjemahkan idemu dari kertas ke layar.

Skip to section

downloadable-content_close

Download Template Brief Kreatif untuk Website

DOWNLOAD

Skip to section

BONUS CONTENT