Hal yang dialami pemilik bisnis

8 Hal yang Hanya Dialami Pemilik Bisnis Dibandingkan Karyawan

Orang bilang, jadi pengusaha itu enak. Namun, memulai bisnis punya tantangannya sendiri. Apakah kamu ingin menjadi pengusaha? Atau malah sudah bulat tekad menjadi karyawan?

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) 2016, ada 3,1% dari total penduduk Indonesia yang menjadi pemilik usaha. Tren ini cenderung naik.

Banyak orang memutuskan memulai bisnis. Salah satu alasannya, karena siapa pun bisa memulai bisnis, terlepas jenis kelamin, usia, atau pendidikannya.

Selain itu, kamu punya lebih banyak kebebasan. Kamu bebas memutuskan jam kerjamu sendiri, menyesuaikan rutinitasmu sesuai kebutuhan, bangun lebih siang dan bekerja dengan pakaian kasual tetapi tetap mengurus bisnismu, membuat keputusan tanpa tekanan atasan dan contoh lainnya.

Lebih bebas, sayangnya, bukan berarti selalu menyenangkan. Ada kalanya terasa melelahkan dan membuat tidak nyaman.

Nah, berikut 8 hal unik yang cuma dialami pemilik bisnis, yang tak dirasakan karyawan.

24 jam sehari tidak cukup

Karyawan memiliki jam kerja pasti. Dia tahu kapan liburnya, entah di akhir pekan atau hari libur nasional. Namun, tidak begitu bagi pemilik bisnis.

Saat bangun tidur, mungkin hal pertama yang terpikirkan adalah bagaimana bisnismu hari ini? Ada berapa banyak barang yang terjual? Di mana kamu bisa membuka cabang baru? Kapan jatuh tempo pembayaran kepada supplier-mu?

Semua pertanyaan tumpang tindih, padahal kamu belum sempat menyeduh kopi pagi! Saat akan pergi tidur pun, pertanyaan-pertanyaan tadi tetap ada. Malah ada yang sempat mampir ke mimpimu.

Sisi buruknya: Kamu merasa 24 jam sehari tidaklah cukup untuk menjalankan bisnis! Yang ada di kepalamu hanya bisnis, bisnis, dan bisnis saja.

Sisi baiknya: Kamu belajar membuat prioritas. Manfaatkan aplikasi untuk merencanakan jadwal dan proyek, lalu sambungkan ke gawaimu, sehingga kamu bisa beraktivitas lebih lincah dan terarah.

Bisnis berubah posesif

Mereka bilang, punya bisnis itu enak. Tidak terikat waktu. Bebas bekerja pukul berapa saja. Ah, apa iya? Terkadang, yang tampak dari luar tak seindah kenyataannya.

Setelah menjalankan bisnismu sendiri, pernahkah kamu merasa semakin tidak bebas? Berapa kali kamu melewatkan film box office terbaru di bioskop, karena harus mengecek laporan penjualan bulanan?

Atau terpaksa tidak hadir di ulang tahun sahabatmu? Kamu mulai tak bisa melakukan hal-hal yang kamu suka, sebab bisnismu menuntut banyak perhatian. Sekarang, bisnismu jadi jauh lebih posesif dari seorang pacar!

Sisi buruknya: Kamu mulai kehilangan momen bersama orang-orang terdekatmu.

Sisi baiknya: Kamu jadi belajar untuk membuat prioritas. Kamu mengurangi kebiasaan yang terlalu menghamburkan uang serta memilah prioritas kehidupan sosialmu. Nah, kamu juga bisa menjadikan traveling ke destinasi idaman atau menonton film incaran sebagai rewards kecil-kecilan atas kerja kerasmu. Itu akan membuat kegiatan sesederhana menonton film dan bepergian terasa istimewa.

Di balik meja kerja

Bisnis online memungkinkanmu bekerja dari mana saja dan kapan saja. Bisa jadi, kamu tengah mengerjakan materi promosi bulan ini, sambil minum kopi di kedai langganan.

Atau kamu meladeni pertanyaan pelanggan dan menjawab permintaan klien secara online, tanpa perlu ribet mandi dan dandan cantik di pagi hari.

Sisi buruknya: Kamu bisa jadi malu kalau ketahuan bahwa ternyata kamu cuma pakai piyama dan sandal rumah saat mengurus bisnis online. Bisa-bisa kamu disepelekan atau dicap tidak profesional.

Sisi baiknya: Setidaknya, kamu bisa menyimpan uang untuk menyewa kantor atau membeli baju kerja trendi, dan menggunakannya untuk kepentingan lain, misalnya menambah stok barang.

Uangku bukan uangku

Saat mencetak rekening koran bisnismu, apa yang kamu rasakan? Berbunga-bunga karena saldonya terus meroket? Atau malah sesak napas karena makin lama keuanganmu makin seret? Mengatur arus kas memang jadi pekerjaan rumah yang besar bagi pemilik bisnis.

Saat banyak uang masuk ke rekening bisnismu, kamu harus menahan diri. Itu uang bisnismu, bukan uang pribadi. Kamu tak serta merta bisa belanja ini itu, traveling ke sana kemari, atau berfoya-foya.

Sisi buruknya: Saat keuangan bisnismu sedang tipis, tak jarang kamu menyuntikkan dana pribadi agar arus kas tetap lancar. Lama-lama, kamu bisa gigit jari bila masalah keuangan ini tidak diperhatikan dengan baik.

Sisi baiknya: Kamu jadi lebih waspada. Kamu perlu membuat sistem pengaturan keuangan yang tepat, baik untuk bisnis dan pribadi agar tidak bercampur. Bila perlu, gunakan jasa perencana keuangan.

Pelanggan adalah raja

Penting untuk menjaga pelangganmu tetap senang. Mereka akan kembali lagi, membeli produkmu atau menggunakan layananmu.

Ada kalanya, pelanggan tidak puas dan mengajukan komplain. Ada yang komplain baik-baik, dengan nada bicara santun dan memberi masukan yang membangun. Namun, ada juga yang marah-marah tanpa alasan jelas.

Sisi buruknya: Kamu bisa terpancing ikut kesal. Apalagi kalau kamu lagi puyeng dengan pembukuan atau sedang ada masalah keluarga di rumah, bisa-bisa kamu malah membalasnya dua kali lebih marah.

Sisi baiknya: Bila kamu berhasil menangani komplain, maka kepercayaan pelanggan akan bertambah. Mereka semakin loyal, bahkan akan membantumu mendapatkan pelanggan baru. Kamu harus menenangkan diri, menyimak mereka, dan melakukan hal yang diperlukan sebagai bentuk layanan pelanggan yang baik. Ucapkan maaf dan berikan solusi atas masalah yang mereka keluhkan.

Ide yang sama

Tak ada yang baru di dunia ini. Bahkan, di dunia bisnis sekali pun. Meski begitu, kamu akan bakal tetap jengkel, kalau ide-ide bisnismu ternyata dicontek orang lain.

Misalnya, bisnis kaus distromu, yang selama ini mencuri perhatian dengan tulisan-tulisan sarkasme, ternyata banyak yang meniru di marketplace. Belum lagi, kalau barang-barangmu dibajak dengan kualitas lebih rendah dan harga lebih miring.

Sisi buruknya: Produkmu jadi terkesan pasaran dan banyak saingan.

Sisi baiknya: Kamu jadi terpacu untuk lebih berinovasi. Kamu terus-menerus bertanya, apa yang bisa dilakukan lebih baik? Inovasi apa yang bisa membantu pelanggan atau meningkatkan penjualan? Gunakan momen ini untuk membuka kesempatan berkolaborasi dengan bisnis lain, sehingga ide-idemu tetap segar dan pasarmu semakin luas.

Karyawan datang dan pergi

Bila kamu baru memulai bisnis, wajar mengurus semuanya sendiri. Seiring waktu, makin banyak yang harus dilakukan. Kamu perlu mempekerjakan orang lain atau bekerja sama dengan vendor lain.

Yang bikin pusing adalah kalau karyawanmu datang dan pergi. Baru bekerja sekian minggu, minta berhenti. Ada yang berhenti baik-baik, ada pula yang tanpa kabar.

Kamu harus mengurus semuanya sendiri lagi, sembari mencari orang baru untuk posisi itu (yang harus diberi pelatihan sebelum mulai bekerja).

Sisi buruknya: Banyak menguras waktu, tenaga, dan biaya.

Sisi baiknya: Kamu jadi banyak kenal orang baru. Kamu mulai paham karakter-karakter unik orang. Tak ada salahnya belajar ilmu sumber daya manusia. Dengan begitu, kamu bisa menyusun sistem yang lebih praktis, untuk menghadapi masalah turnover ini. Selain itu, kamu jadi bisa belajar bisnis secara keseluruhan, yang membuatmu menjadi seorang manager yang mumpuni.

Marketing online

Inilah masalah hampir seluruh bisnis kecil. Kamu perlu memikirkan metode marketing dengan keuntungan tertinggi, padahal anggaran dan sumber dayamu terbatas. Namanya juga baru memulai berbisnis..

Kamu memikirkan saluran media sosial, tetapi kamu belum punya ilmu untuk membangun engagement di komunitas maya. Ingin beriklan, danamu terbatas.

Sisi buruknya: Kamu “dipaksa” belajar tentang ilmu digital marketing, serta membangun komunitas di media sosial sebagai corong pemasaran. Selain itu, mengamati ulasan dan umpan balik dari pelanggan bisa jadi melelahkan. Namun, ini diperlukan sebab ulasan online dan rating ikut membangun reputasi bisnismu. Kamu juga harus belajar trik SEO, sebab bagimu website adalah pusat pemasaran bisnismu secara digital.

Sisi baiknya: Di pengujung hari, kamu akan memetik buahnya. Bila kampanye marketingmu berhasil, bisnismu akan maju. Penjualan naik, pelanggan makin loyal, dan brandmu dipercaya. Semua kerja keras itu terasa sepadan, bukan?

Kesimpulan

Layaknya dua sisi koin, menjadi pemilik bisnis ada enak dan tidak enaknya. Menjadi karyawan atau pengusaha bukanlah tentang persaingan siapa yang lebih hebat. Ini tentang pilihan paling sesuai untuk setiap individu.

Bila kamu sudah memutuskan berbisnis, bangunlah brandmu bersama tim yang tepat, dengan website yang tepat. Hubungi Sitebeat sekarang juga.

Skip to section

downloadable-content_close

Join Us

Dapatkan wawasan terbaru dan terkini seputar teknologi digital untuk membantu mengembangkan bisnismu

Skip to section

BONUS CONTENT